Halo gaes, lama tidak jumpa. Kali ini saya ingin kembali sharing tentang pembuatan DIY liquid untuk vaporizer, kenapa saya share lagi? Karena saya melihat banyak sekali teman-teman yang ingin mencoba menjadi brewer, entah untuk konsumsi sendiri maupun dikomersilkan. Dan juga perbaikan dalam tulisan saya sebelumnya, karena itu terlalu "mengambang" untuk saat ini, kurang mendetail juga.
Oke, langsung saja. Kali ini kita akan coba batch 100ml agar lebih mudah dalam penghitungan nya.
Peralatan:
1. Gelas Beaker (ukuran 100ml ke atas)
2. Gelas Ukur (minimal ukuran 100ml)
3. Corong stainless (tidak wajib)
4. Mixer / Pengaduk (Manual / elektrik, bebas)
5. Botol Steril (untuk menyimpan liquid, bahan kaca lebih bagus)
6. Sarung tangan latex steril (atau pakai saja alkohol swap/hand sanitizer)
Bahan:
1. Propylene Glycol (Pharma grade)
2. Vegetable Glycerine (Pharma grade)
3. Flavor / Essence (Sebisa mungkin gunakan yang candy grade, misal TFA, Capella, Flavor Art, dll)
4. Sweetener (Saya sarankan menggunakan sucralose, atau sweetener merk TFA / Capella)
5. Nikotin (Bisa gunakan merk Nicvape, RTS, Alpha, Wizard lab, dll. Yang penting vendor nya jelas)
6. Chiller / Cooling agent (jika ingin memberi efek dingin)
Prolog:
Kali ini kita akan gunakan % (persen) agar lebih mudah diterapkan berapapun liquid yang ingin kita buat.
Contoh:
VG 70%, berapa ml (mililiter) kah itu dalam batch 100ml ? Cara menghitungnya adalah:
(70 / 100) x 100ml = 70ml
Jadi 70% dari 100ml adalah 70ml
*)Tips: dalam batch 100ml, setiap 1% nya adalah 1ml. Jadi mudah kan mengitungnya? oke kita lanjut..
Pertama, tentukan rasa apa yang ingin kita buat. Dalam sharing kali ini saya akan coba membuat rasa Strawberry Cream. Lalu kita tentukan rasa apa yang akan kita tonjolkan, kali ini saya ingin strawberry dominan, lalu ada kesan cream seperti es krim pada body dan bottom note french vanilla (mirip vanilla wafer ta*go). Langung masuk ke resep:
1. Capella Sweet Strawberry : 3% (ini strawberry manis, candy like)
2. TFA Strawberry Ripe : 3% (karakternya seperti buah strawberry asli yang sudah matang)
*) kenapa harus 2 jenis strawberry? Sweet Strawberry saya gunakan agar rasanya lebih "blend" dengan basic cream nya nanti, karena jika Strawberry Ripe saja nanti kesannya cuma buah strawberry yang ditaruh diatas cream, kurang menyatu. Lanjut
3. Capella Vanilla Bean Ice Cream : 2%
4. Capella Sweet Cream : 3%
5. TFA Marsmallow: 2% (kok ada marsmallow juga? karena menurut saya ini dapat memberi kesan sweetness pada body, untuk mendukung sweet cream diatas)
*) Untuk body saya rasa itu sudah cukup umtuk memberi kesan cream, meskipun masih sangat sederhana dan masih bisa dimodifikasi agar lebih "bold" lagi. Lanjut
6. TFA French Vanilla : 2%
7. Capella Whipped Cream : 1%
*) Ini hanya sebagai bottom note, untuk support body agar after taste vanilla lebih "dapat".
8. Capella Super Sweet (Sweetener) : 1% (saya tidak suka terlalu manis, bila suka manis bisa dimainkan antara 1-3% saja, selebihnya malah bisa "over" dan membuat coil cepat berkerak)
9. Nikotin : 3% (saya inginkan nic 3mg/ml, dan merk favorit saya adalah NicVape karena karakter TH (Throat Hit) nya mantap )
Kedua tentukan perbandingan PG : VG, kalau saya paling nyaman di PG 30 : VG 70, setelah itu kurangi PG dengan total (%) dari flavor + sweetener + nikotin. Dalam kasus ini:
PG - (Flavor + Sweetener + Nikotin) = 30 - (16+1+3) = 30 - 20 = 10
Artinya PG yang perlu kita tambahkan adalah 10%, karena Flavor, dll itu adalah PG base sehingga kita anggap 20% dari PG sudah terpenuhi oleh komponen itu.
Mixing:
1. Sterilkan semua peralatan termasuk tangan kita
2. Konversikan hitungan dalam (%) tadi menjadi ml (mililiter), karena kita membuat 100ml, berarti 1% nya adalah 1ml
3. Masukkan 10ml PG ke dalam gelas ukur
4. Masukkan flavor pertama, kali ini adalah Sweet Strawberry 3ml, berarti tinggal kita tambahkan hingga skala di gelas ukur kita menunjukkan angka 13 (10ml PG + 3ml Sweet Strawberry)
5. Lakukan langkah ke 4 pada flavor dan komponen lain kecuali VG
6. Goyang gelas ukur dengan gerakan memutar hingga terlihat semua telah tercampur rata
7. Masukkan VG sebanyak 70ml, kali ini akan tepat menyentuh angka 100ml, karena komponen sebelumnya sudah berjumlah 30ml
8. Tuang campuran tadi ke dalam gelas beaker, agar kita lebih mudah mengaduknya
9. Aduk sampai rata, jika menggunakan mixer elektrik lebih baik diberi dimmer agar putarannya tidak terlalu kencang dan menimbulkan buih. Kalau manual, yang penting jangan sampai berbuih. Proses mixing ini bervariasi antara 15-30 menit
10. Jika larutan sudah terlihat homogen (tercampur sempurna), masukkan ke dalam botol penyimpanan dan tutup rapat
11. Steeping, simpan botol tadi dalam suhu ruang dan jangan terkena sinar matahari (makin gelap makin baik). Waktu steeping ini juga bervariasi, antara 1-30 hari. Pokoknya cicip liquid anda setiap hari agar tahu di hari ke-berapakah liquid anda nantinya siap dikonsumsi, jadi ketika membuat lagi, anda sudah tahu waktu yang pasti untuk steeping liquid buatan anda.
Yah demikian yang bisa saya share kali ini, semoga bermanfaat ya gaesss.. keep brewing!!! Jangan takut gagal, karena sesuatu yang baik tidak tercipta secara instan. *cheers*
Showing posts with label tips. Show all posts
Showing posts with label tips. Show all posts
Tuesday, January 31, 2017
Tuesday, October 6, 2015
Vaping VS Rokok
Halo teman-teman pembaca yang setia, kali ini saya bukan mau me-review ataupun memberi tutorial. Kali ini saya hanya ingin mengungkapkan apa isi hati dan pikiran saya soal Vaping.
Mengapa artikel ini saya buat? Karena saya sering dengar pertanyaan semacam ini:
1. Vaping itu berbahaya gak sih?
2. PV (Personal Vaporizer) sama rokok itu lebih bahaya mana?
3. Apa gak bikin polusi tuh asapnya banyak banget?
Mengapa artikel ini saya buat? Karena saya sering dengar pertanyaan semacam ini:
1. Vaping itu berbahaya gak sih?
2. PV (Personal Vaporizer) sama rokok itu lebih bahaya mana?
3. Apa gak bikin polusi tuh asapnya banyak banget?
Dan lain sebagainya. Saya kadang lelah juga menjelaskan ke orang lain tentang vaping, tapi ya apa boleh buat. Saya sadar bahwa saya (pengguna PV) harus memberi tahu orang-orang disekitar saya tentang benda yang selalu saya bawa kemana-mana ini, agar orang lain mengerti benda apa ini sebenarnya.
Oke, mari masuk lebih jauh. Bagi saya, kegiatan vaping ini sangat berbeda dari rokok konvensional. Pertama, tidak ada proses pembakaran disini, hanya Propylene Glycol dan Vegetable Glycerine yang di-uap kan. Benar, tidak ada bau pembakaran (sangit dalam bahasa Jawa). Kedua, bahan yang digunakan pun berbeda dimana rokok menggunakan daun tembakau yang dibakar, PV menggunakan Propylene Glycol dan Vegetable Glycerine yang diuapkan menggunakan kumparan kawat yang kita sebut koil. Persamaan dari rokok dan PV satu-satunya adalah sama-sama digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan Nikotin dalam jumlah tertentu (tergantung kebutuhan). Keuntungan dengan PV adalah kita bisa menurunkan kadar nikotin sesuai kebutuhan kita, biasanya produsen liquid memiliki opsi 6mg, 3mg, dan 0mg. Ketika kita sudah bisa memakai 0mg nikotin maka jelas kita sudah terlepas dari adiksi nikotin, benar kan? Meskipun kita tetap vaping, sewaktu-waktu berhenti pun tidak masalah karena pada dasar nya sudah lepas dari adiksi nikotin. Berbeda dengan rokok, seorang perokok apalagi perokok berat sangat susah untuk mengurangi batang rokok yang dihisapnya. Saya tidak asal bicara, karena saya pernah termasuk salah satunya. 2 bungkus per hari itu sudah biasa, bisa anda bayangkan berapa ribu racun yang saya hisap tiap hari nya. Satu-satunya opsi bagi perokok untuk berhenti ya hanya niat, dan itu sangat sulit karena kita tidak bisa menurunkan konsumsi nikotin kita secara perlahan.
Sekarang saya ingin menanggapi, mana yang lebih berbahaya?
Pertama, apa yang terkandung dalam rokok? Jelas ada nikotin, tar, arsenik, amonia dan ribuan lainnya. Lalu apa yang terkandung dalam liquid PV? Propylene Glycol, Vegetable Glycerine, Essens (food grade), Nikotin (opsional), pemanis (terkadang). Hanya itu yang terkandung dalam liquid. Bagi saya memang semua yang tidak seharusnya masuk paru-paru seseorang tapi tetap dipaksa dimasukkan tentu memiliki resiko. Jika kita lihat bahan-bahan nya, liquid PV itu lebih cocok masuk ke pencernaan ketimbang pernafasan, hehehe karena bahan-bahan itu sudah sangat wajar terdapat pada makanan (kecuali nikotin). Silahkan googling saja satu per satu bahan liquid yang saya sebutkan tadi. Sekarang kita lihat bahan apa yang ada dalam rokok, tentunya daun tembakau, kertas rokok, dan filter. Lalu kenapa zat yang dihasilkan ada ribuan? Ya karena pembakaran itu tadi menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih kompleks, saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh karena memang bukan bidang saya (bagi teman-teman yang tahu, tolong sampaikan di kolom komentar ya).
Oke, mari masuk lebih jauh. Bagi saya, kegiatan vaping ini sangat berbeda dari rokok konvensional. Pertama, tidak ada proses pembakaran disini, hanya Propylene Glycol dan Vegetable Glycerine yang di-uap kan. Benar, tidak ada bau pembakaran (sangit dalam bahasa Jawa). Kedua, bahan yang digunakan pun berbeda dimana rokok menggunakan daun tembakau yang dibakar, PV menggunakan Propylene Glycol dan Vegetable Glycerine yang diuapkan menggunakan kumparan kawat yang kita sebut koil. Persamaan dari rokok dan PV satu-satunya adalah sama-sama digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan Nikotin dalam jumlah tertentu (tergantung kebutuhan). Keuntungan dengan PV adalah kita bisa menurunkan kadar nikotin sesuai kebutuhan kita, biasanya produsen liquid memiliki opsi 6mg, 3mg, dan 0mg. Ketika kita sudah bisa memakai 0mg nikotin maka jelas kita sudah terlepas dari adiksi nikotin, benar kan? Meskipun kita tetap vaping, sewaktu-waktu berhenti pun tidak masalah karena pada dasar nya sudah lepas dari adiksi nikotin. Berbeda dengan rokok, seorang perokok apalagi perokok berat sangat susah untuk mengurangi batang rokok yang dihisapnya. Saya tidak asal bicara, karena saya pernah termasuk salah satunya. 2 bungkus per hari itu sudah biasa, bisa anda bayangkan berapa ribu racun yang saya hisap tiap hari nya. Satu-satunya opsi bagi perokok untuk berhenti ya hanya niat, dan itu sangat sulit karena kita tidak bisa menurunkan konsumsi nikotin kita secara perlahan.
Sekarang saya ingin menanggapi, mana yang lebih berbahaya?
Pertama, apa yang terkandung dalam rokok? Jelas ada nikotin, tar, arsenik, amonia dan ribuan lainnya. Lalu apa yang terkandung dalam liquid PV? Propylene Glycol, Vegetable Glycerine, Essens (food grade), Nikotin (opsional), pemanis (terkadang). Hanya itu yang terkandung dalam liquid. Bagi saya memang semua yang tidak seharusnya masuk paru-paru seseorang tapi tetap dipaksa dimasukkan tentu memiliki resiko. Jika kita lihat bahan-bahan nya, liquid PV itu lebih cocok masuk ke pencernaan ketimbang pernafasan, hehehe karena bahan-bahan itu sudah sangat wajar terdapat pada makanan (kecuali nikotin). Silahkan googling saja satu per satu bahan liquid yang saya sebutkan tadi. Sekarang kita lihat bahan apa yang ada dalam rokok, tentunya daun tembakau, kertas rokok, dan filter. Lalu kenapa zat yang dihasilkan ada ribuan? Ya karena pembakaran itu tadi menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih kompleks, saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh karena memang bukan bidang saya (bagi teman-teman yang tahu, tolong sampaikan di kolom komentar ya).
Terus terang saya tidak bisa secara gamblang mengatakan mana yang lebih berbahaya, saya hanya ingin menjelaskan apa yang saya rasakan. Pada dasarnya memasukkan "sesuatu" ke paru-paru selain oksigen itu tentu memiliki resiko, termasuk merokok dan vaping. Namun kenapa saya lebih memilih vaping? Karena saya tahu benar apa yang saya masukkan ke paru-paru, dan bahan-bahan itu (setidaknya) aman bila dikonsumsi. Jika saya menginginkan nikotin, kenapa saya harus ikut memasukkan 4000 lebih zat kimia yang ada dalam rokok? Dengan vaping setidaknya hanya beberapa senyawa saja yang ikut masuk ke paru-paru saya. Toh, di lingkungan kita sekarang sudah susah mendapatkan udara bersih (terutama di perkotaan), semua sudah tercemar asap kendaraan, polusi pabrik, asap pembakaran sampah, dan berbagai polusi lainnya. Setiap hari paru-paru kita tercemari oleh polusi itu, apakah saya harus menambah itu semua dengan 4000 lebih zat berbahaya dalam rokok? Bagi saya, memilih vaping untuk mendapatkan nikotin itu lebih bijaksana (INGAT, BAGI SAYA PRIBADI). Itu alasan pertama saya.
Alasan kedua, saya pernah ditegur karena bau asap rokok yang begitu pekat di badan maupun nafas saya. Yah, secara tidak langsung itu membuat saya tidak percaya diri ketika berhadapan dengan orang lain, terutama keluarga, ataupun rekan-rekan yang tidak suka bau rokok. Juga ketika saya merokok, meskipun di tempat terbuka dan tidak ada larangan, ada saja orang yang mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya karena asap rokok saya mengenai orang itu. Bagi saya itu sudah "kode" jika orang itu terganggu dengan kehadiran saya disitu. Memang awalnya saya cuek, toh memang tidak ada larangan merokok. Namun lama-lama saya merasa bersalah juga. Kenapa saya harus "meracuni" para perokok pasif ini? Apa salah mereka? Itu alasan kedua saya memilih untuk vaping, setidaknya apa yang saya hembuskan itu adalah uap. Meski demikian saya tetap berusaha tidak mengganggu orang lain dengan uap saya dan tetap vaping di area dimana merokok diperbolehkan.
Ketiga, saya adalah orang yang ceroboh. Pernah suatu ketika saya sedang mengetik sambil tengkurap di kasur, sembari menyeruput secangkir kopi hitam dan menghisap rokok. Ketika mata sudah berat, akhirnya saya ketiduran dengan tangan masih memegangi rokok yang masih menyala. Alhasil, saya membakar sebagian sprei tempat tidur dan terkena sedikit luka bakar di tangan. Saya masih bersyukur bisa segera terbangun dan memadamkan api. Dengan vaping, saya rasa insiden itu tidak akan terjadi lagi. Meskipun PV masih menyala, selama tombol firing tidak tertekan tidak akan terjadi insiden serupa.
Alasan yang ke empat, dengan PV kita bisa merasakan liquid dengan berbagai rasa. Percaya atau tidak, itu sangant menyenangkan bagi saya. Saat merokok, saya hanya memiliki 2 opsi rasa, tembakau murni, atau tembakau dengan menthol. Dengan PV, ada banyak sekali rasa yang bisa kita explore, mulai dari buah, makanan, minuman, menthol dan lain-lain. Indra perasa dan penciuman saya pun sekarang lebih peka terhadap berbagai macam rasa dan bau. Bahkan, saya mulai bisa mengkonsumsi air putih lagi (FYI: ketika masih aktif merokok, saya benar-benar tidak suka air putih, pokoknya harus minum yang ada rasanya, terutama kopi). Dan air putih itu memberi dampak yang besar pada kesehatan saya. Oya satu info lagi, ketika vaping jangan lupa diselingi meminum air putih, karena tenggorokan akan terasa kering dan tubuh mengalami dehidrasi (setau saya penyebabnya adalah Propylene Glycol dalam jumlah tertentu).
Alasan terakhir saya, ada begitu banyak opsi dan modifikasi pada PV. Saya orang yang suka mengutak-atik sesuatu, karena itu saya sangat senang ketika hobi saya itu bisa tersalurkan dengan kegiatan vaping ini. Ada begitu banyak opsi, mulai dari jenis Mod, RDA/RTA, berbagai macam bentuk koil yang bisa dibuat, bahkan kita bisa membuat sendiri PV kita, misal seperti Powerbank Mod. Tentu ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan peralatan ini, mulai dari modifikasi, inovasi, dan lain sebagainya.
Yah, itulah beberapa alasan saya beralih menggunakan Vaporizer. Lima hal itu sudah cukup kuat membuat saya berhenti merokok tembakau. Tapi saran saya bagi anda yang ingin beralih ke PV dengan alasan ingin mengirit, berhati-hatilah karena akan ada banyak godaan, mulai dari berbagai varian liquid di pasaran, hingga munculnya mod atau RDA/RTA baru tiap bulannya. Hehehe, itu godaan yang sangat susah ditolak bagi saya, karena ada saja dorongan untuk membeli, meskipun sebenarnya kita bisa mengirit dari segi liquid. Jika anda ingin melakukan sedikit pengiritan, coba saja buat liquid anda sendiri (Baca Disini: Tips Membuat DIY Liquid). Terakhir, bagi saya PV memang bukan opsi untuk lebih mengirit, tapi saya lebih sayang paru-paru saya. Karena saya belum bisa lepas dari nikotin, maka vaping adalah pilihan saya. Mungkin suatu saat jika saya sudah benar-benar bisa lepas dari nikotin, saya pun akan berhenti vaping dan memulai hidup sehat yang sebenarnya.
Akhir kata, terimakasih sudah membaca artikel saya yang berantakan ini. Saya harap anda bisa dengan bijak menilai dan memilih antara merokok dan vaping, karena saya tidak ingin men-judge mana yang lebih baik terutama bagi anda. Hidup ini adalah pilihan, dan pilihan itu milik anda masing-masing. Artikel ini saya tulis berdasarkan apa yang saya rasakan dan saya alami, maaf apabila tidak bisa menjelaskan secara ilmiah, karena saya tidak berkompeten untuk itu, saya hanya menyampaikan apa yang terlintas di pikiran saya. Terimakasih, salam ngebul...!!!
Friday, March 20, 2015
Hati-hati Dalam Berinovasi: Powerbank Mod
Halo sahabat vaporizero
kali ini akan membahas Powerbank Mod.
Sebelumnya saya minta maaf, bukan maksud menyinggung para inovator. Tapi saya sekedar ingin mengingatkan agar kita tetap berhati-hati dalam melakukan inovasi, karena salah-salah malah bisa membahayakan diri.Saya ingin membahas soal Powerbank Mod, alias mod yang asal-usul nya dari sebuah powerbank, seperti ini:
gambar dari: https://www.ecig-vapo.com/images/vv-pccp-kit-6600mah.jpg
Nah, sebenarnya tidak salah menggunakan powerbank sebagai mod, toh memang dasarnya mod dan powerbank itu sama-sama sumber daya yang berasal dari baterai. Rata-rata para modder menjumper baterai powerbank dan langsung menghubungkannya ke konektor 510, berikut skemanya secara sederhana, maaf berantakan, hehe:
*Kabel kuning: Untuk PB, Kabel Merah: Digunakan untuk Mod
Nah, lalu apa yang jadi masalah? masalahnya adalah baterai. Baterai yang ada dalam powerbank itu pada dasarnya bukan difungsikan untuk vaporizer, hanya mengisi daya gadget kita saja, makanya belum tentu spesifikasi baterai itu dapat menahan panas dari koil kita, apalagi kalo untuk sub-ohm.
Dalam dunia vaporizer, baterai yang direkomendasikan adalah baterai High-Drain, yah paling tidak diatas 20A. Sedangkan baterai PB? tentu tidak memiliki hal itu, apalagi PB yang KW-KW an hehehe. Memang kalau kita paksakan, atomizer kita tetap akan bekerja berapapun hambatannya, karena prinsip Powerbank Mod ini seperti DIY Mechanical Boxmod, daya dari baterai langsung dialirkan ke atomizer tanpa melalui rangkaian elektronik untuk mengontrol. Ini yang berbahaya, baterai yang jelek (untuk kegiatan vaping) tentu akan sangat cepat panas, bahkan tidak menutup kemungkinan meledak, ini serius karena baterai memiliki daya tahan tertentu terhadap panas, kalau tidak percaya, cari saja video di youtube "18650 batteries explode".
Lalu? Berarti Powerbank Mod ini tidak boleh ya? BOLEH, asal... Asal kita mengganti baterai di dalam nya terlebih dahulu dengan baterai dengan baterai yang memang digunakan untuk vaping, sebut merk gapapa yah? hehe, contoh: efest, vamped, mxjo, AW, Vappower, dll. Tapi ingat, tetap perhatikan kekuatan baterai, minimal 20A. Dan tetap dipasang seperti susunan baterai powerbank sebelum kita bongkar.
Apakah fungsinya sebagai powerbank terganggu? Tidak, selama kita hanya menjumper baterainya saja, alias tidak mengutak-atik modul (board) powerbank nya. Lalu bolehkah men-charge seperti mencharge powerbank biasa? Tentu saja boleh, dan justru itu lebih menguntungkan karena modul powerbank biasanya memiliki fitur auto-cut, yaitu memutus aliran listrik dari charger ketika baterai sudah penuh.
Yah, kira-kira seperti itu yang dapat saya bagikan, maju terus Modder Indonesia, tetaplah berinovasi! Keep vaping on!
Baca juga: Tips Membuat DIY Liquid
Wednesday, March 11, 2015
Tips Dalam Membuat DIY Liquid
Halo gaeess. vaporizero
kali ini akan membahas Cara membuat liquid (DIY Liquid).
Saya ingin berbagi sedikit tips tentang membuat liquid sendiri. Sebenarnya cukup mudah karena hanya mirip dengan membuat minuman sendiri. Saya juga sering menerima beberapa pertanyaan, nah kali ini saya akan menulis saja dalam format tanya jawab. Check this out!Q: mas, bahan apa aja sih untuk bikin liquid itu? apakah susah dapetnya?
A: bahan utamanya ada 3 yaitu Propylene Glycol (selanjutnya kita sebut PG), Vegetable Glycerin (selanjutnya kita sebut VG), dan essen. INGAT, SEMUA HARUS FOODGRADE UNTUK MANUSIA.
Ada juga bahan tambahan opsional, yaitu nikotin cair. tapi ini opsional sifatnya.
Q: hah? maksudnya foodgrade buat manusia gimana?
A: maksudnya, ya yang layak dikonsumsi manusia. karena ada juga essen untuk campuran umpan ikan, memang disana tertulis foodgrade, tapi kan level foodgrade ikan sama manusia beda.
Q: oh gitu, alat yang untuk bikin apa aja?
A: yang jelas botol kaca untuk mencampur, pipet/suntikan untuk masing-masing bahan, usahakan pipet/suntikannya memiliki skala agar kita tahu berapa banyak bahan yang akan kita campur. Sediakan juga air panas, atau pemanas nasi.
Q: langkahnya mas?
A:
- misal kita membuat 10ml dengan perbandingan PG:VG = 50:50, maka siapkan 5ml PG dan 5ml VG dulu.
- tentukan jumlah essen yang akan kita gunakan, misal 2ml, berarti volume PG kita kurangi 2ml.
- masukkan 3ml PG dan 2ml essen, lalu kocok dalam botol tertutup kurang lebih 5 menit.
- setelah itu buka tutup botol nya dan biarkan selama 1 jam, jangan terlalu lama karena aroma essen bisa hilang. proses ini kita sebut breathing.
- sekarang masukkan 5ml VG, dan kocok agak lama hingga gelembungnya banyak.
- setelah dikocok cukup lama (sekitar 15 menit), masukkan ke dalam air panas (ingat, pastikan botol liquid kita sudah tertutup rapat). diamkan hingga airnya dingin. buka tutupnya sekitar 5 menit, kocok lagi, dan masukkan lagi ke dalam air yang masih panas. ulangi langkah ini 2-3 kali.
- sekarang kita masuk ke tahap finishingnya, kocok hingga keluar gelembung lagi, lalu taruh liquid kita tadi di tempat gelap (misal lemari, kotak, atau kantong yang tidak tembus cahaya).
- diamkan selama 1 minggu untuk hasil sempurna, oya jangan lupa setiap hari buka botolnya selama 5 menit, tutup dan kocok lagi, lalu kembali taruh di tempat gelap. begitu terus selama 1 minggu.
oyaa, sobat vaporizero cek UPDATE ini ya, karena ada update untuk artikel ini dengan info yang lebih lengkapz semoga membantu..
Subscribe to:
Posts (Atom)




